Minggu, 02 Oktober 2011

"Janganlah Kafir Setelah Engkau Beriman"


Janganlah Kafir Setelah Engkau Beriman

Manusia disebut sebagai makhluk berderajat mulia adalah karena hanya manusia yg paling sempurna evolusinya. Tidak hanya ber-evolusi secara fisik, namun juga akal dan spiritualnya. Sebagai makhluk spiritual, manusia akan tumbuh rasa rindu untuk bertemu dg Tuhan. Sebagaimana Nabi Ibrahim as dalam mencari Tuhan, di awal evolusinya, Manusia menganggap Energi inti Alam semesta adalah Tuhan.

Nabi Ibrahim A.S Mencari Tuhan

Salah satu perjalanan intelektual dan spiritual Ibrahim as. adalah episode ketika dia mencari Tuhan. Pencariannya berakhir dengan sebuah temuan yang sampai pada tingkat keyakinan yang kokoh, bahkan menjadi hujjah di kemudian hari ketika dia berdebat dengan raja Namrudz dan pembesar-pembesar kaumnya, termasuk ayahnya. Kisah pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Ibrahim as. tersebut direkam oleh Allah dalm surat al-An’am [6]: 75-79

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75)فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ(76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ(77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ(79)

Artinya: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin (75). Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam" (76). Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat" (77). Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78). Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79).”
Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah perjalanan intelektual dan spiritual Ibrahim tersebut. Di antaranya ;
Pertama, Hendaklah manusia selalu dan terus mencari ilmu dan kebenaran. 
Nabi Ibrahim as. sekalipun calon nabi dan rasul Allah, yang sekiranya dia tidak berusaha mencari Tuhan pun, Allah pasti akan menurunkan ilmu dan pengetahuan kepadanya. Akan tetapi, Ibrahim as. tidak berdiam diri, menunggu datangnya ilmu dan seterusnya. Ibrahim as. berupaya terlebih dahulu mencari tahu, walaupun kemudian Allah menurunkan wahyu, ilmu dan informasi kepadanya.

Begitulah, bahwa ilmu memang harus dicari dan diusahakan. Seperti yang dipesankan Allah swt. dalam surata an-Nahl [16]: 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Kedua, ilmu yang didapatkan sendiri dan dengan cara mandiri apalagi melalui ekperimen, percobaan akan lebih mantap, dan kokoh di dalam hati manusia. Ibrahim as. memperoleh ilmu dan pengatahuan sampai ke tingkat yakin (mûqinun), karena dia mencari sendiri dan dengan pengalaman yang dialami sendiri.

Kasus yang sama juga pernah ditunjukan oleh Ibrahim as. ketika meminta kepada Allah agar memperlihatkan cara menghidupkan yang telah mati. Ibrahim meminta hal itu bukannya tidak percaya akan kekuasaan Allah, namun supaya lebih mantap ilmu dan keyakinannya itu. Atas saran Allah, Ibrahim kemudian melakukan percobaan dengan menyembelih empat ekor burung, kemudian mencincang dagingnya di sebuah wadah lalu mengaduknya. Daging tersebut diletakkan di setiap penjuru empat bukit. Lalu Ibrahim memanggilnya, maka semua burung kembali mencari dagingya yang sudah hancur dan terpisah, kemudian hidup dan terbang lagi.

Begitulah percobaan Ibrahim akhirnya mendatangkan keyakinan terhadap dirinya. Kisah tersebut diceritakan dalam surat al-Baqarah [2]: 260

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Tiga, hendaklah dalam belajar, mencari ilmu, berfikir dan seterusnya, bahwa manusia memulainya dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Sebab, hal itu sangat sesuai dengan fitrah manusia dan sunnatullah. Di mana setiap mansuai diciptakan untuk melalui tahapan demi tahapan kehidupan, dari yang sederhana menuju kesempurnaan.

Lihatlah! Ibrahim dalam mencari Tuhan, yang pertama diperhatikannya adalah bintang yang tentu lebih kecil, baik bentuknya yang terlihat maupun cahayanya yang memancar. Setelah bintang selesai diperhatikannya, dan dia telah mendapatkan kesimpulan barulah Ibrahim memperhatikan bulan yang ukurannya dan cahayanya terlihat lebih besar dari bintang. Setelah menganalisa bulan dan mendapatkan sebuah kesimpulan, barulah Ibrahim memperhatikan matahari yang ukuran dan cahayanya jauh lebih besar dan terang dari yang sebelumnya.

Begitulah, hendaknya manusia dalam menempuh proses belajar serta pematangan intelektual dan spritualnya. Mulailah dari hal-hal yang kecil dan sederhana untuk kemudian beranjak menuju yang lebih komplek dan sempurna. Bukankah manusia ketika belajar berhitung dimulai dari pengenalan angka, kemudian penambahaan, pengurangan, lalu perkalian begitulah seterusnya. Bagaimanakah jadinya manusia jika ketika mulai belajar berhitung yang dihadapkan kepadanya adalah perkalaian, sementara dia belum mengenal bentuk angka itu sendiri.

Empat, hendaklah manusia selalu menuju ke arah yang lebih terang, cerdas, dewasa. Karena Ibrahim as. beranjak dari memperhatikan bintang yang lebih kecil, redup kemudian bulan yang lebih besar dan terang, kemudian matahari yang sangat terang dan besar. Hendaklah manusia selalu mengarah dari gelap menuju yang lebih terang. Dari yang kecil menuju yang lebih besar, dari kebodohan menuju kecerdasan. Bukankah Allah selalu mengungkapkan ayat-Nya, dengan menyebut gelap sebelum terang? lihat salah satunya surat al-Ma’idah[5]: 16

….وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ….

Lima, dengan akal dan terus berfikir, manusia akan mampu menguasai langit dan bumi. Itulah yang dikatakan Allah bahwa Ibrahim diperlihatakan kerajaan langit dan bumi (malakût as-samawati wa al-Ardhi). Berfikir dan bereksperimen, akan mengantarkan manusia menyingkap tabir kekuasaan langit dan bumi. Hal yang sebelumnya mustahil dan tidak bisa diterima oleh akal manusia, dengan berfikir dan bereksperimen manusia kemudian akan membenarkan yang sebelumnya dianggap tidak masuk akal. Generasi masa lalu tentu akan mengatakan seseorang gila, jika berkata bahwa dia baru saja berbicara langsung dengan seseorang yang berada dalam jarak antar negara atau antar benua. Namun, dengan hasil fikiran dan percobaan manusia, hal itu sekarang menjadi masuk akal bahkan sangat akrab dengan manusia. Generasi yang lalu, tentu akan mengtakan seseorang gila jika dikatakan kepadanya bahwa dia baru saja terbang mengarungi jarak yang jauh dalam waktu yang sangat singkat. Akan tetapi, dengan hasil fikiran dan percobaan manusia, saat ini hal itu adalah sesuatu yang dengan gampang diterima akal manusia. Begtiulah, bahwa berfikir dan bereksperimen akan mengantarkan manusia menguasai langit dan bumi.

►Mudah-mudahan umat Islam tidak kembali kepada kekafiran setelah beriman. Mengingat banyak penyembah alam semesta yg giat berdakwah di fesbuk. Termasuk pemahaman yg salah dg menganggap Ruh Kudus manusia atau Sang Atman sebagai Tuhan. Itu filsafat ketuhanan di era sebelum Nabi Muhammad SAW. Tidakkah kita malu pada Nabi Ibrahim A.S. bila kita samapai salah jalan...???

Jagalah Aqidah Islamiyah, Islam adalah agama yg benar. Islam adalah agama untuk umat di akhir zaman. Marilah kita jaga Islam. Maka Allah akan menjaga kita.

Bismillahirrohmanir rohim. 
Beserta Asma Allah yg Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah adalah sumber energi cinta kasih yg beredar di alam semesta. Dengan beserta Asma Allah, maka diri kita, keluarga dan alam semesta di sekitar kita akan senantiasa di liputi energi cinta kasih.

Alhamdulillahirobbil 'alamin..
Oleh karena itu, segala puja puji hanyalah untuk Allah. Tuhan yg menciptakan alam semesta. Kalaupun kita terpesona dg keindahan alam, maka ingatlah Allah yg Maha Indah yg telah menciptakan alam semesta dg begitu indahnya. Sehingga karena kita selalu ingat Allah ketika bersentuhan dg alam, maka sebagai hamba Allah. Kita akan berbuat yg ramah dan penuh kasih terhadap alam semesta, sebagai tanda syukur kita kepadaNYA. Demikianlah Islam mengajarkan ttg manusia sebagai khalifatullah fil ardhi dalam mengejawantahkan tugasnya yaitu sebagai Rahmatan lil 'alamin..

Isti’adzah/ta’awwudz (meminta perlindungan) adalah ibadah. Oleh sebab itu ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Karena menujukan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan. Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang demikian takut kepada syirik sampai-sampai beliau berdoa kepada Allah,

ً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35

“Dan demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi yaitu (musuh yang berupa) syaithan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka mewahyukan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya (manusia).” (QS. Al An’aam: 112) (Diringkas dari Syarhu Ma’aani Suuratil Faatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah).

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.( QS. Al Anfaal 8:39 )
  1. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu [33]. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah [34], dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, ( QS. Al Baqarah 2:26 )  [33] Diwaktu turunnya ayat 73 surat 23 Al Hajj yang di dalamnya Tuhan menerangkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat membuat lalat, sekalipun mereka kerjakan bersama-sama, dan turunnya ayat 41 surat Al Ankabuut yang di dalamnya Tuhan menggambarkan kelemahan berhala-berhala yang dijadikan oleh orang-orang musyrik itu sebagai pelindung sama dengan lemahnya sarang laba-laba.  [34] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka mereka itu menjadi sesat.
  2. Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka [70], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. ( QS. Al Baqarah 2:89 ) [70] Maksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya.
  3. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya [71] kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan [72]. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.( QS. Al Baqarah 2:90 )
  4. Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. #Menasakhkan sesuatu ayat adalah urusan Allah. ( QS. Al Baqarah 2:105 )
  5. Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya [82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( QS. Al Baqarah 2:109 )
  6. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab [189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. ( QS. Ali Imran 3:19 ) [189] Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Qur'an.
  7. Dan mereka mengikuti apa [76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan [77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat [78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya [79]. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.( QS. Al Baqarah 2:102 )
  8. Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? ( QS. Al Baqarah 2:28 )
  9. Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. ( QS. Al Baqarah 2:116 )
  10. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. ( QS. Al Baqarah 2:212 )
  11. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ( QS. Al Baqarah 2:257 )
  12. Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali [192] dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).  ( QS. Ali Imran 3:28 ) [192] Wali jamaknya auliyaa; berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.
  13. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya". ( QS. Ali Imran 3:12 )
  14. Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. ( QS. Ali Imran 3:54 )
  15. Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". ( QS. Ali Imran 3:32 )
  16. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?". ( QS. Ali Imran 3:80 )
  17. Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. ( QS. Ali Imran 3:86 )
  18. kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan [211]. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS. Ali Imran 3:89 )  [211] Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan- pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat- akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.
  19. Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itu- lah orang-orang yang sesat. ( QS. Ali Imran 3:90 )
  20. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.( QS. Ali Imran 3:100 )
  21. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. ( QS. Ali Imran 3:101 )
  22. pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". ( QS. Ali Imran 3:106 )
  23. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta'ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. ( QS. Ali Imran 3:149 )
  24. Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. ( QS. Ali Imran 3:177 )
  25. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.( QS. An Nisaa 4:139 )
  26. Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir [252]; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. ( QS. Ali Imran 3:176 ) [252] Yakni: orang-orang kafir Mekah atau orang-orang munafik yang selalu merongrong agama Islam.
  27. Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu [299]). ( QS. An Nisaa 4:41 ) [299] Seorang nabi menjadi saksi atas perbuatan tiap-tiap umatnya, apakah perbuatan itu sesuai dengan perintah dan larangan Allah atau tidak.
  28. Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, ( QS. An Nisaa 4:140 )
  29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. ( QS. Al Maidah 5:57 )
  30. Dan apakah orang yang sudah mati [502] kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. ( QS. Al An'am 6:122 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar